Mario Pranda Dorong Ekosistem Jagung untuk Petani Mabar

Ragam503 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Upaya memperkuat kemandirian ekonomi petani kembali digerakkan dari wilayah pedalaman Manggarai Barat. Ketua Yayasan Bakti Kampung Halaman (YBKH), Christo Mario Yosephino Pranda, turun langsung mengunjungi kawasan pertanian jagung di Konang, Desa Watu Umpu, Kecamatan Welak, Jumat (20/3/2025).

Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah awal membangun sistem pertanian yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Di lokasi, Mario menyempatkan diri berdiskusi dengan para petani yang tengah mengelola lahan jagung. Ia menekankan bahwa komoditas jagung memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung ekonomi desa, asalkan dikelola dengan pendekatan yang tepat dan konsisten.

“Yang kita bangun bukan hanya tanam dan panen, tetapi sebuah ekosistem,” kata Mario, dilansir Info Labuan Bajo, Jumat (20/3/2026).

Gagasan ekosistem yang dimaksud mencakup pembenahan menyeluruh dalam sektor pertanian. Mulai dari penyediaan bibit unggul, peningkatan kapasitas petani melalui edukasi, hingga dukungan sarana produksi dan kepastian akses pasar.

Menurutnya, persoalan utama petani tidak hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada distribusi dan stabilitas harga hasil panen.


BACA JUGA :


Melalui YBKH, Mario menawarkan pola pendampingan yang berkelanjutan. Petani tidak hanya dibantu saat masa tanam, tetapi juga hingga tahap pasca panen, termasuk peningkatan kualitas hasil produksi melalui pendampingan tenaga ahli.

“Kami akan menjadi jaminan pemasaran, selama produksinya kontinyu dan kualitasnya terjaga,” ujar Mario.

Pernyataan tersebut disambut positif oleh para petani yang hadir. Kepastian pasar dinilai menjadi faktor penting yang selama ini menentukan keberanian mereka untuk meningkatkan produksi. Tanpa jaminan tersebut, risiko kerugian sering kali menjadi pertimbangan utama.

Selain itu, Mario juga menyoroti keunggulan jagung sebagai komoditas pertanian yang relatif mudah dibudidayakan dan memiliki siklus panen yang cepat. Dalam setahun, jagung bahkan bisa ditanam hingga tiga kali, membuka peluang perputaran ekonomi yang lebih cepat di tingkat desa.

“Kita punya lahan, kita punya tenaga. Tinggal bagaimana kita kelola secara serius dan terarah,” katanya.

Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam mendorong model pertanian berbasis komunitas di Manggarai Barat. Jika berhasil, pendekatan tersebut diharapkan dapat diterapkan di wilayah lain dengan kondisi serupa.

Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi sektor pertanian mulai dari keterbatasan modal hingga akses pasar inisiatif ini membawa harapan baru bagi petani. Tidak hanya untuk meningkatkan hasil produksi, tetapi juga membangun sistem yang lebih adil dan berkelanjutan.

Kecamatan Welak yang dikenal memiliki potensi lahan luas kini dihadapkan pada pilihan penting: tetap dengan pola lama atau bertransformasi menuju sistem pertanian modern yang terintegrasi. 

Arah perubahan itu mulai terlihat, dengan jagung sebagai salah satu komoditas andalan yang tengah didorong menjadi penggerak ekonomi baru.

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Mari bergabung di Group WA berita LABUAN BAJO TODAY setiap hari.
Nikmati berita terkini tentang Wisata dan Investasi di Labuan Bajo.