Angin Segar bagi Pariwisata Mabar: Titiek Soeharto Dukung Penambahan Kuota Kunjungan TN Komodo

Pariwisata31 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Keluhan para pelaku industri pariwisata di Labuan Bajo terkait pembatasan ketat kunjungan ke Taman Nasional (TN) Komodo mulai menemui titik terang.


Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, secara terbuka menyatakan dukungannya untuk meninjau ulang dan menambah kuota kunjungan wisatawan.

Saat ini, berdasarkan regulasi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), kuota kunjungan dibatasi hanya di angka 1.000 orang per hari. Angka ini dinilai oleh banyak pihak terlalu kecil untuk menampung minat wisatawan yang terus meningkat ke Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) ini.

“Kita minta dikaji lagi, kuotanya bisa dinaikkan,” tegas Titiek Soeharto di sela kunjungan kerjanya di Labuan Bajo, Jumat (24/4/2026).

Menakar Angka Ideal: Aspirasi Pelaku Usaha vs Realita Konservasi

Dalam dialog yang dihadiri oleh 22 perwakilan asosiasi pariwisata serta Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki, muncul usulan dari pelaku usaha agar kuota dinaikkan menjadi 3.000 orang per hari. Namun, Titiek menilai lonjakan tersebut terlalu drastis.

“Kenaikan kuota harus bertahap. Belum bisa ya (langsung 3.000), kita pelan-pelan naiknya. Jangan 1.000, tapi pelan-pelanlah,” ujar politikus Partai Gerindra tersebut, menekankan perlunya keseimbangan antara ekonomi dan konservasi.


BACA JUGA :


Merespons permintaan langsung Titiek di meja diskusi, Wamenhut Rohmat Marzuki menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa mengambil keputusan seketika. “Tentunya saya harus melaporkan kepada Bapak Menteri Kehutanan (Raja Juli Antoni) terkait aspirasi penambahan kuota ini,” ungkap Rohmat.

Menariknya, Rohmat mengungkapkan fakta lapangan bahwa dalam tiga pekan terakhir, pihaknya secara diskresional telah menaikkan kuota di hari-hari tertentu menjadi 1.100 hingga 1.300 orang akibat penyesuaian kebutuhan di lapangan.

Dasar Kajian: Infrastruktur DPSP dan Daya Dukung Lingkungan

Perwakilan asosiasi pariwisata, Budi Widjaja, menegaskan bahwa pelaku usaha sama sekali tidak menolak semangat konservasi. Namun, mereka meminta pemerintah melihat data terbaru pasca penetapan Labuan Bajo sebagai DPSP.

Ketua DPC Gahawisri Labuan Bajo tersebut memaparkan perbandingan data krusial:

  • Kajian 2018: Menetapkan rata-rata 1.000 orang/hari (365.000/tahun). Ini dibuat sebelum investasi besar-besaran DPSP masuk.
  • Kajian 2022: Memasukkan nilai aktivitas pantai dan snorkeling, menunjukkan daya tampung bisa mencapai 800.000 orang per tahun (sekitar 2.100 – 2.300 orang/hari).

“Tahun 2018 belum ada DPSP. Tahun 2022 sudah ada investasi peningkatan infrastruktur yang otomatis meningkatkan daya dukung dan daya tampung. Jadi, angka 3.000 per hari adalah usulan yang rasional untuk saat ini,” kata Budi.


Menanti Titik Tengah

Dari perspektif ekonomi, pembatasan kuota yang terlalu ketat (1.000/hari) berisiko menghambat Return on Investment (ROI) dari investasi infrastruktur masif yang telah dikucurkan pemerintah pusat di Labuan Bajo. Sebaliknya, pembukaan kuota tanpa kendali akan mengancam status World Heritage TN Komodo.

Dukungan Komisi IV DPR RI untuk “naik perlahan” adalah sinyal positif bahwa pemerintah pusat mulai menyadari perlunya relaksasi kebijakan demi menghidupkan ekonomi lokal tanpa mengorbankan ekologi.

Kini, bola panas berada di tangan Kementerian Kehutanan untuk merilis hasil kajian terbaru yang mampu mengakomodasi aspirasi pelaku wisata sekaligus menjaga kelestarian sang naga purba.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Ingin menikmati liburan di Labuan Bajo dengan lebih nyaman tanpa kesalahan yang sering terjadi selama perjalanan? Percayakan perencanaan perjalanan Anda pada standar premium Labuan Bajo Holiday.

Pesan paket wisata Labuan Bajo melalui WhatsApp +62 811 3835 366 atau+62 812 9111 1137atau kunjungi Instagram LABAHO!