Menanti Huntap Lewotobi, Warga Pengungsi Pilih Bertahan Hidup dengan Bertani

Ragam94 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih menunggu kepastian pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang dijanjikan pemerintah.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah labaho1.jpeg


Ratusan warga yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) tidak dapat kembali ke rumah mereka karena berada di zona bahaya erupsi. Ketidakpastian pembangunan Huntap membuat sebagian warga mulai mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kondisi tersebut mendorong sejumlah pengungsi untuk memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar lokasi pengungsian demi tetap produktif dan menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga mereka.

Melihat situasi yang dihadapi para pengungsi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ILMU menyalurkan bantuan berupa peralatan pertanian kepada warga terdampak pada Kamis, 16 Juli 2026, di kawasan Hunian Sementara Lewotobi.

Bantuan yang diberikan berupa parang dan sekop ditujukan agar para petani korban erupsi dapat mulai mengolah lahan pertanian sebagai sumber penghidupan selama menunggu realisasi pembangunan Hunian Tetap.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur diketahui masih memberikan bantuan logistik rutin berupa beras sebanyak 25 kilogram per Kepala Keluarga setiap bulan, minyak goreng, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya bagi para pengungsi.

Namun demikian, bantuan logistik dinilai belum mampu menjawab kebutuhan jangka panjang masyarakat yang hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian tempat tinggal dan sumber penghasilan yang tetap.

Dalam sebuah rekaman video yang diterima media, salah seorang warga mengaku terpaksa meminta izin menggunakan lahan milik keluarga di Desa Konga untuk membangun hunian mandiri bagi istri dan anak-anaknya.


BACA JUGA :


“Saya sekarang di Konga. Saya terpaksa minta lahan ke salah satu keluarga di sini untuk bangun hunian mandiri buat anak istri. Kalau cuma bertahan di Huntara, kami tidak bisa menyambung hidup,” ungkap salah seorang warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi.

Warga tersebut juga mengaku belum memperoleh informasi pasti terkait jadwal pembangunan Hunian Tetap yang dijanjikan pemerintah bagi para pengungsi.

“Kami tidak tahu kapan dipindahkan. Jalan menuju lahan Huntap baru saja dibuka, tapi kapan rumahnya dibangun? Kami tidak tahu,” ujarnya.

Ketua LSM ILMU, Dionisius Parera, mengatakan bahwa pembagian peralatan pertanian dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi warga yang masih menggantungkan harapan pada proses relokasi yang belum selesai.

“Kemarin kami bagikan peralatan pertanian agar para petani korban letusan Lewotobi bisa mulai menggarap lahan demi mempertahankan hidup,” kata Dionisius Parera atau yang akrab disapa Doni dalam keterangan tertulis, dilansir dari suara nusantara Jumat, 17 Juli 2026.

Menurut Doni, bantuan berupa parang dan sekop dipilih agar masyarakat dapat kembali produktif dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan yang disalurkan selama masa pengungsian.


“Sangat sedih melihat mereka hidup dalam ketidakpastian. Dengan alat kerja seadanya ini, minimal mereka punya modal awal untuk menyambung napas secara mandiri,” tambahnya.

Ia juga mengajak masyarakat luas untuk turut memberikan perhatian dan dukungan kepada ratusan warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi yang hingga kini masih tinggal di camp pengungsian dan berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sementara itu, pembangunan Hunian Tetap yang menjadi harapan utama para pengungsi masih dinantikan realisasinya. Kepastian waktu pembangunan dan relokasi warga menjadi informasi yang paling ditunggu oleh masyarakat terdampak.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor INBISNIS Group di Bali dan Labuan Bajo untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *