Buaya Muara Muncul di Perairan Rinca, Keselamatan Wisatawan Jadi Perhatian

Ragam52 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR  – Kemunculan seekor buaya muara (Crocodylus porosus) di perairan Pulau Rinca, tepatnya di sekitar Strawberry Rock dan Pulau Kalong, memicu perhatian terhadap aspek keselamatan di salah satu kawasan wisata tersibuk di Labuan Bajo.

Satwa predator puncak tersebut terpantau pada Jumat (17/7) di jalur pelayaran yang menjadi lokasi favorit wisatawan untuk menikmati panorama alam serta area aktivitas nelayan di Kabupaten Manggarai Barat.

Berdasarkan data yang dihimpun Labuan Bajo Terkini, informasi mengenai keberadaan buaya pertama kali diterima Balai Taman Nasional Komodo (TNK) dari pengunjung dan petugas Resort Kampung Rinca pada pukul 15.00 WITA.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Hendrikus Rani Siga, menjelaskan bahwa buaya muara merupakan satwa asli Nusa Tenggara Timur yang umumnya ditemukan di muara sungai, kawasan hutan bakau, dan wilayah pesisir.


BACA JUGA :


Secara ekologis, buaya muara merupakan hewan semi-akuatik yang mampu berenang dalam jarak jauh dan berpindah antarpulau mengikuti arus, ketersediaan mangsa, maupun pola migrasi alami.

“Kami terus melakukan pemantauan bersama Balai Besar KSDA NTT. Masyarakat dan pelaku wisata kami imbau meningkatkan kewaspadaan, hindari berenang atau aktivitas di air di lokasi tersebut, serta segera lapor jika kembali melihat satwa ini,” jelas Hendrikus,dilansir dari labuanbajoterkini.id Kamis,23 Juli 2026.

Kemunculan satwa tersebut di sekitar Pulau Rinca dinilai sebagai bagian dari pergerakan alami di luar habitat utamanya. Meski demikian, keberadaannya di jalur wisata padat tetap menjadi perhatian pengelola kawasan.

Ketua Pemuda Manggarai Barat Bersatu (PMBB), Obe Hormat, meminta Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan TNK segera melakukan kajian mendalam, pemantauan intensif, serta langkah mitigasi risiko di lokasi kemunculan buaya.

“Keberadaan buaya di jalur pelayaran dan lokasi wisata harus jadi perhatian serius. Keselamatan masyarakat lokal, wisatawan, dan pelaku usaha pariwisata adalah prioritas utama,” tegas Obe Hormat dalam pernyataan resminya, (Kamis,23 Juli 2026).

PMBB menegaskan dukungannya terhadap upaya konservasi satwa liar, namun menilai perlunya keseimbangan antara perlindungan ekosistem dan perlindungan nyawa manusia di kawasan wisata.

“Koordinasi cepat, transparan, dan melibatkan masyarakat mutlak diperlukan agar risiko bisa ditekan seminimal mungkin,” tambahnya.

Hingga saat ini belum terdapat laporan insiden serangan. Namun, kemunculan buaya muara di perairan Rinca menjadi pengingat bahwa pengelolaan destinasi wisata kelas dunia memerlukan kewaspadaan dan koordinasi yang baik untuk menjaga keselamatan seluruh pengguna kawasan.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor INBISNIS Group di Bali dan Labuan Bajo untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin