Labuan Bajo Berkembang Pesat, Kapasitas Damkar Dinilai Belum Mengimbangi Risiko Kebakaran

Ragam53 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR  – Pertumbuhan kawasan pariwisata dan pembangunan di Labuan Bajo menghadirkan tantangan baru. Di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi dan pembangunan, kapasitas pemadam kebakaran di Kabupaten Manggarai Barat dinilai belum mampu mengimbangi potensi risiko yang terus bertambah.

Data Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Manggarai Barat menunjukkan tren kebakaran yang meningkat dalam tiga tahun terakhir. Tercatat 12 kejadian pada 2024, meningkat menjadi 23 kasus pada 2025, dan hingga pertengahan Juli 2026 telah terjadi 15 insiden kebakaran.

Kepala Satpol PP Manggarai Barat, Yeremias Ontong, mengatakan peningkatan jumlah kejadian menjadi perhatian serius mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga sektor usaha dan pariwisata.

“Setiap kejadian kebakaran berpotensi menimbulkan kerugian besar, baik terhadap rumah warga, bangunan usaha, maupun fasilitas umum. Ini menjadi tantangan bersama,” ujar Yeremias, dilansir dari labuanbajoterkini.id, Kamis (23 Juli 2026).

Sepanjang 2025, kebakaran menyebabkan 52 korban dan berdampak pada 224 warga. Sementara pada periode Januari hingga Juli 2026, tercatat 20 korban dan 44 warga terdampak. Kebakaran lahan masih mendominasi, terutama saat musim kemarau di sejumlah wilayah perbukitan.


BACA JUGA :


Salah satu kejadian terbesar terjadi pada 15 Juli 2026 ketika api membakar sekitar 100 hektare lahan di kawasan utara Plataran Resort hingga Bukit Keranga. Beruntung, api berhasil dipadamkan sebelum merambat ke permukiman dan kawasan wisata.

Menurut Yeremias, penyebab kebakaran cukup beragam, mulai dari pembakaran lahan, puntung rokok, pembakaran sampah tanpa pengawasan, hingga cuaca panas ekstrem. Untuk bangunan, faktor korsleting listrik dan kelalaian saat memasak masih mendominasi.

Di sisi lain, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tantangan utama. Saat ini, Kabupaten Manggarai Barat hanya didukung satu unit mobil pemadam kebakaran, satu mobil suplai air, dan sekitar 20 personel yang harus melayani wilayah yang luas.

“Kami masih fokus pada wilayah yang dapat dijangkau dengan cepat. Untuk daerah yang jauh, waktu respons tentu menjadi kendala,” katanya.

Berdasarkan kajian internal, Manggarai Barat membutuhkan sedikitnya 150 personel dan 10 unit mobil pemadam yang ditempatkan di beberapa titik strategis, seperti Labuan Bajo, Lembor, Kuwus, dan Boleng, guna mempercepat penanganan.

Selain keterbatasan armada, ketersediaan air juga menjadi tantangan. Petugas masih bergantung pada sumber air milik masyarakat, hotel, PDAM, dan dukungan sejumlah instansi saat melakukan pemadaman.

Pemerintah daerah pun terus memperkuat upaya pencegahan melalui sosialisasi kepada masyarakat, pelaku usaha, dan pengelola destinasi wisata. Edukasi dilakukan di sekolah, puskesmas, hotel, kantor pemerintahan, hingga desa-desa yang dinilai rawan kebakaran.

Yeremias mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama memasuki musim kemarau. “Jangan membakar lahan sembarangan, pastikan instalasi listrik aman, dan segera laporkan apabila menemukan titik api,” ujarnya.

Meningkatnya kasus kebakaran di Manggarai Barat menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah perlu diikuti dengan penguatan layanan dasar. Kesiapan armada, personel, dan infrastruktur penanggulangan kebakaran akan menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan masyarakat dan keberlanjutan sektor pariwisata di Labuan Bajo.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor INBISNIS Group di Bali dan Labuan Bajo untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin