Festival Golo Koe 2026 Jadikan Pengurangan Sampah sebagai Gerakan Bersama Warga Labuan Bajo

Event34 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR –  Festival Golo Koe Maria Asumta Nusantara 2026 tidak hanya dipersiapkan sebagai perayaan keagamaan dan budaya, tetapi juga sebagai momentum membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Melalui kampanye bertajuk “Labuan Bajo Tanpa Sampah”, panitia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Kegiatan edukasi tersebut dikemas melalui pemutaran film bertema lingkungan yang menggambarkan dampak kerusakan alam akibat pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan. Pendekatan ini dipilih agar pesan pelestarian lingkungan lebih mudah dipahami sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Humas Panitia Festival Golo Koe 2026, RD Heribertus Ratu, Pr, mengatakan edukasi lingkungan merupakan bagian dari rangkaian persiapan festival agar pelaksanaan kegiatan tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

“Tema besar tahun ini adalah Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan. Artinya, kehadiran kita di sini, ibadah kita, dan perayaan iman kita harus dibarengi dengan tanggung jawab menjaga alam yang merupakan anugerah Tuhan. Kami tidak ingin Festival Golo Koe hanya menjadi acara besar yang indah, namun meninggalkan tumpukan sampah di belakangnya,” tegas RD Heribertus Ratu, Pr, dilansir dari labuanbajoterkini Jumat, 31 Juli 2026.

Menurutnya, kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan komunitas pemerhati lingkungan menjadi langkah strategis agar pesan menjaga kebersihan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Panitia berharap peserta yang mengikuti kegiatan edukasi mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

“Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa merawat lingkungan sama artinya dengan merawat kehidupan dan iman kita sendiri. Kebiasaan kecil yang kita bangun mulai hari ini, akan menjadi perubahan besar bagi masa depan Manggarai Barat,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande, menegaskan pemerintah daerah kini menerapkan pendekatan baru dalam pengelolaan sampah dengan menitikberatkan upaya pengurangan sejak dari sumbernya.

“Kami mengubah paradigma pengelolaan sampah. Dulu pola pikirnya ‘kumpul, angkut, buang’, sekarang kami fokus ke pengurangan sampah langsung dari sumbernya atau di hulu,” tegas Vinsensius, Jumat, 31 Juli 2026

Ia mengungkapkan produksi sampah di Labuan Bajo saat ini mencapai sekitar 26 hingga 27 ton per hari. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar diterapkannya Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 16 Tahun 2025 yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai di seluruh wilayah kabupaten.


BACA JUGA :


Selain mengurangi penggunaan plastik, pemerintah juga mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah dengan memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu. Langkah ini dinilai dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Semangat pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular juga diperlihatkan oleh komunitas Lino Tana Dite. Salah seorang anggotanya, Lani, membagikan pengalaman mengolah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi sektor pertanian.

“Kami mengolah limbah kulit buah dan sisa ikan menjadi asam amino serta pupuk organik cair yang bermanfaat bagi pertanian. Ini bukti bahwa sampah bukan sekadar masalah, tapi bisa jadi berkah jika dikelola dengan benar,” ujar Lani, kepada Labuan Bajo Terkini, Jumat, 31 Juli 2026

Ia juga mengajak masyarakat, khususnya kalangan muda, untuk membangun kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri dan botol minum isi ulang guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mari mencintai lingkungan seperti kita mencintai diri sendiri, agar bumi ini tetap bersih dan layak huni,” tambahnya.

Komitmen menjaga lingkungan juga akan diterapkan selama penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026. Panitia mewajibkan seluruh pelaku UMKM mengelola sampah secara mandiri dan tidak menyediakan kantong plastik bagi pengunjung sebagai bagian dari penerapan prinsip festival ramah lingkungan.

Selain itu, panitia menggelar Lomba Wilayah Gereja Terbersih yang melibatkan tiga paroki di Labuan Bajo. Penilaian tidak hanya mencakup kebersihan lingkungan gereja, tetapi juga dokumentasi edukasi mengenai praktik pemilahan sampah yang dilakukan umat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui berbagai rangkaian tersebut, Festival Golo Koe 2026 diharapkan menjadi contoh bahwa penyelenggaraan kegiatan berskala besar dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kebersihan, mengurangi timbulan sampah, serta memperkuat budaya peduli lingkungan di destinasi wisata Labuan Bajo.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor INBISNIS Group di Bali dan Labuan Bajo untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin.