Peningkatan Keselamatan Laut Komodo, Radar dan Pemantauan Real-Time Jadi Utama

Pariwisata656 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi premium terus berjalan. Namun di balik pertumbuhan wisata, isu keselamatan laut di kawasan Taman Nasional Komodo kembali menjadi perhatian serius.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah labaho1.jpeg

Berbagai kalangan, mulai dari komunitas pelaku wisata hingga pemerintah daerah, menilai sistem pemantauan arus dan cuaca berbasis teknologi harus segera diperkuat. Bukan lagi sebatas wacana, melainkan kebutuhan yang mendesak.

“Komodo tidak hanya memerlukan kuota. Komodo memerlukan sistem keselamatan laut yang modern. Dan itu dimulai dengan keberanian untuk mengambil keputusan hari ini,” tegas Ketua DPC Gahawisri Labuan Bajo, Budi Widjaja, dilansir Labuan Bajo Terkini, Senin (2/3/2026).

Perairan Rumit, Radar Masih Minim

Budi menjelaskan, karakter perairan di sekitar TN Komodo tergolong kompleks. Arus lintas Indonesia, gelombang pasang di selat sempit, gelombang silang, hingga pusaran arus kuat menjadi tantangan tersendiri bagi kapal wisata.

Saat ini, sistem High Frequency (HF) Radar untuk membaca arus laut baru tersedia di dua titik.

“Jika kita benar-benar serius tentang keselamatan, maka penambahan radar di titik-titik strategis seperti Padar Utara, Rinca Selatan, dan Komodo Selatan bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi kebutuhan strategis yang mendesak,” ucapnya.

Menurutnya, idealnya terdapat lima unit radar yang saling terhubung agar mampu meminimalkan titik buta arus, menghitung vektor arus secara presisi, memprediksi kondisi laut 1–3 jam ke depan, serta membantu analisis saat terjadi insiden.

Integrasi data dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dinilai akan membuat nakhoda kapal wisata mengambil keputusan berbasis data ilmiah, bukan sekadar perkiraan.


BACA JUGA :
– Puncak GBT Merah Menawan 19.33 WITA di Labuan Bajo 
– Laundry 3 Jam Selesai? Excellent Laundry Membuktikannya!
– SPBU Labuan Bajo Batasi BBM Subsidi untuk Pelat Luar NTT
– Tragedi KM Putri Sakinah Berlanjut ke Tahap II, Berkas Resmi Lengkap
– Di Labuan Bajo, Gubernur Jabar KDM: Kami Belajar dari Ketangguhan Flores


“Waktu kritis dalam kecelakaan laut sering ditentukan oleh satu faktor: pengetahuan tentang arah arus. Tanpa informasi tersebut, pencarian dan penyelamatan menjadi spekulatif. Dengan radar yang memadai, respons menjadi lebih terukur,” jelas Budi.

Risiko Ekonomi Tak Kecil

Ia juga mengingatkan, satu insiden besar bisa berdampak panjang pada reputasi pariwisata Labuan Bajo. Pembatalan perjalanan, turunnya okupansi hotel, kenaikan premi asuransi, hingga sorotan media internasional bisa terjadi.

“Untuk membangun pariwisata berkualitas, pengelolaan keselamatan harus ditingkatkan sesuai dengan standar internasional. Penambahan radar bukan sekadar proyek alat, tetapi simbol pergeseran paradigma: dari pendekatan administratif menuju pendekatan berbasis sains dan mitigasi risiko,” pungkasnya.

KSOP Dorong Pemantauan Mendekati Kondisi Nyata

Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo Stefanus Risdiyanto, menilai perangkat pemantauan yang memadai sangat penting untuk meningkatkan ketepatan prakiraan cuaca dan kondisi laut.

“Pemantauan cuaca dengan peralatan memang diperlukan untuk akurasi prakiraan cuaca yang near real atau mendekati kenyataan aslinya di lapangan,” ujar Stefanus.

Ia menambahkan bahwa sistem tersebut akan berdampak langsung terhadap keamanan aktivitas pelayaran.

“Itu akan sangat membantu keselamatan pelayaran,” tegasnya.

Budi Widjaja juga menambahkan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan asosiasi kapal wisata dan hotel untuk mengumpulkan masukan.

“Kerjasama multi-stakeholder ini sangat penting agar investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak,” katanya.

TN Komodo Sudah Miliki Dua Alat

Sementara itu, Kepala Balai TN Komodo Hendrikus Rani Siga menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan BMKG terkait penempatan alat pemantau di kawasan konservasi tersebut.

“Kalau bicara pemantauan arus laut yang memiliki data dan informasi sebenarnya dari BMKG. Kita sudah ada kerja sama dengan BMKG terkait penempatan alat deteksi tsunami atau pemantau arus (HF radar) di Gililawa laut dan deteksi gempa bumi (Seismograf) di Sebita,” ujar Hendrikus, Senin (2/3), Siang.

Ia menyebutkan, saat ini baru dua perangkat yang terpasang di kawasan TN Komodo.

“Saat ini dan mungkin untuk sementara baru 2 alat tersebut yang ditempatkan BMKG di kawasan TN Komodo,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya berharap jumlah alat pemantau dapat ditambah di masa mendatang.

“Mudah-mudahan akan ditambah lagi kedepannya,” pungkas Hendrikus dengan optimis.

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Mari bergabung di Group WA berita LABUAN BAJO TODAY setiap hari.
Nikmati berita terkini tentang Wisata dan Investasi di Labuan Bajo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *