Fatima Meliani Rambing, kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak Manggarai Barat
LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (KKTPA) di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) masih menunjukkan angka yang relatif tinggi.
Berdasarkan data dari Dinas Sosial (Dinsos) Mabar, tercatat 27 kasus kekerasan per Maret 2025, sementara pada tahun 2024 jumlah mencapai 93 Kasus.
Rincian kasus selama tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 93 kasus, terdapat 28 kasus kekerasan terhadap anak, 11 di antaranya adalah kasus kekerasan seksual. Sedangkan untuk perempuan, tercatat 68 kasus, dengan 31 diantaranya merupakan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan 6 kasus kekerasan seksual.
Pada tahun 2025, dari total 27 kasus, terdapat 11 kasus kekerasan terhadap anak yang terdiri dari 7 kasus kekerasan fisik dan 1 kasus kekerasan seksual. Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, terdapat 16 kasus. total ini terbilang tinggi mengingat dalam kurun waktu 3 bulan saja sudah mencapai 29 % dari angka tahun 2024 .
Sebagai langkah untuk menangani masalah ini, Dinas Sosial Mabar telah meluncurkan program pendampingan bagi korban kekerasan. Program ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikologis dan hukum, serta membantu korban dalam proses pemulihan agar mereka dapat kembali beraktivitas normal.
kepala Dinas Sosial mabar, Marselinus Jebaru , mengungkapkan pentingnya pendampingan bagi korban.
“Selama ini, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Mabar cukup tinggi. Kami berperan untuk mendampingi dan melakukan rehabilitasi sosial bagi korban yang mengalami trauma,” ujarnya pada Kamis (10/4) lalu.
Fatima Meliani Rambing, kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak Mabar, saat ditemui pada Selasa 22 april 2025 juga menekankan perlunya kesadaran masyarakat dan bantuan media untuk mengekspos akan pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak. Dia berharap dengan adanya pendampingan, angka kekerasan dapat menurun di masa depan
“Saya berharap masyarakat dan tema-teman media dapat bersama-sama memerangi kasus kekerasan ini, karena jika hanya fokus pada penanganan, masalah ini tidak akan pernah selesai,” tutupnya.