Rakor Multi Pihak, Badan Peduli TNK Perkuat Kolaborasi untuk Kelestarian Kawasan

Pariwisata64 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Ketua Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya, Pater Marselinus Agot, SVD, menegaskan bahwa pembentukan badan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat keterlibatan berbagai elemen dalam menjaga dan mengelola kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) secara berkelanjutan.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah labaho1.jpeg

Rapat koordinasi yang digelar di Hotel Prundi Labuan Bajo pada Senin (18/2/2026) membahas arah pengembangan pariwisata berkualitas yang bertumpu pada tiga pilar utama, yakni ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“Misi kami memfasilitasi kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi dalam menjalankan pelestarian Taman Nasional Komodo dan sekitarnya,” kata Pater Marsel, dilansir Klik Labuan Bajo, Rabu (19/2/2026).

Selain memperkuat sinergi lintas sektor, badan tersebut juga mendorong peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga kelestarian kawasan, sekaligus memperluas program pemberdayaan masyarakat di sekitar TNK.

Sejumlah program telah direalisasikan, di antaranya penanaman mangrove di Lenteng, renovasi pustu dan sekolah di Kerora, hingga pembangunan jembatan penghubung Kerora–Wae Rebo sebagai bagian dari dukungan terhadap akses dan kesejahteraan warga.

“Kami berusaha dalam kerja sama dengan BTNK untuk pelatihan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat pesisir,” kata Pater Marsel.

Upaya lain yang turut digalakkan meliputi dukungan permodalan bagi pelaku UMKM, pengelolaan sampah, serta penyediaan air minum bersih untuk masyarakat sekitar kawasan.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) Hendrikus Rani Siga menyampaikan bahwa pihaknya berpeluang tidak lagi menutup kunjungan wisatawan ke kawasan TNK di masa mendatang.

“Kenapa tidak saya tutup, karena ternyata untuk kapal-kapal wisata dari luar KSOP Labuan Bajo, seperti cruz dari Sape, Bali ada kemungkinan mereka langsung ke kawasan. Kami mau tidak mau tetap melakukan pelayanan,” kata Hendrikus.


BACA JUGA :
– Minibus Telaga Rindu Terjun di Roe Manggarai Barat, 3 Luka Ringan
– Laundry 3 Jam Selesai? Excellent Laundry Membuktikannya!
– Turis Asal Kanada Ditemukan Meninggal di Hotel Labuan Bajo, Ini Kronologinya
– Kakek 80 Tahun di Manggarai Barat Diduga Cabuli 2 Anak SD
– BBKSDA Rekomendasikan Golo Mori sebagai Alternatif Lihat Komodo


Ia juga menyinggung kebijakan penerapan kuota kunjungan yang saat ini masih dalam tahap awal pelaksanaan. Menurutnya, kebijakan tersebut memicu berbagai pandangan, terutama terkait pilihan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang.

Apabila terdapat kendala teknis dalam penerapannya, lanjutnya, hal tersebut masih dapat dibicarakan bersama para pihak terkait.

Hendrikus turut mengungkapkan bahwa BTNK tengah mengupayakan perubahan status menjadi Badan Layanan Umum (BLU), dengan persetujuan Kementerian Keuangan.

Dengan status BLU, pengelolaan pendapatan dinilai akan lebih optimal dan dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan kawasan.

Ia mencontohkan, pada tahun sebelumnya pendapatan mencapai sekitar Rp100 miliar, namun dana yang kembali untuk pengelolaan TNK hanya sekitar Rp1 miliar.

“Kita berjuang BLU supaya keuangan yang tadi Rp100 miliar bisa digunakan, bisa meningkatkan kualitas pengelolaan. Syukur-syukur kalau pemerintah punya kepentingan, mudah-mudahan ada bagi hasil atau kerja sama,” kata Hendrikus.

Menurutnya, kebutuhan ideal pengelolaan TNK berada di kisaran Rp60 miliar per tahun.

“Kalau ada kelebihan bisa kerja sama atau untuk pemberdayaan masyarakat,” kata Hendrikus.

Dari sisi transportasi laut, KSOP Labuan Bajo mencatat terdapat 812 kapal yang beroperasi di wilayah tersebut. Jumlah itu meningkat signifikan pada musim timur, ketika kapal-kapal dari Raja Ampat turut merapat ke Labuan Bajo. Sementara kapal yang menetap dan beroperasi rutin di Labuan Bajo berkisar 400 unit.

Stasiun Meteorologi Komodo juga melaporkan bahwa telah diajukan permohonan ke BMKG pusat untuk penambahan alat observasi di sejumlah titik rawan kecelakaan dalam kawasan TNK, guna memperkuat pemantauan cuaca maritim.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Andhy MT. Marpaung mendorong agar promosi destinasi tidak hanya terfokus pada wisata bahari Labuan Bajo, tetapi juga mengangkat potensi wisata daratan Flores agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Mari bergabung di Group WA berita LABUAN BAJO TODAY setiap hari.
Nikmati berita terkini tentang Wisata dan Investasi di Labuan Bajo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *