LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Penutupan total layanan kapal wisata di Labuan Bajo menuai protes dari pelaku industri pariwisata. Sejumlah asosiasi menyampaikan keberatan mereka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Manggarai Barat, Jumat (30/1/2026).

Penutupan yang berlangsung lebih dari satu bulan dinilai telah melumpuhkan aktivitas pariwisata di destinasi superprioritas tersebut.
Para pelaku wisata mendesak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo segera membuka kembali pelayaran kapal wisata. Mereka menilai kebijakan penutupan dilakukan secara sepihak dan tidak mempertimbangkan kondisi lapangan yang dinilai sudah membaik.
“Desakan kami atas nama asosiasi, urgensi sekarang adalah pariwisata tidak bisa mengikuti keinginan pribadinya Kepala KSOP yang melakukan penutupan,” kata Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat Aloysius Suhartim Karya, dilansir Detikbali, Sabtu (31/1/2026).
Aloysius juga menyinggung peran KSOP dan BMKG dalam keputusan penutupan pelayaran. Menurutnya, kondisi cuaca di Labuan Bajo relatif memungkinkan untuk kembali membuka layanan kapal wisata. Ia meminta agar kedua instansi tersebut dihadirkan dalam RDP lanjutan.
“Kami berpikir harus di tanggal 1 (Februari), rekomendasi kami salah satu harus dibuka (pelayaran kapal wisata) tanggal 1,” tegas Aloysius.
Ia menilai penutupan tidak bisa terus diperpanjang karena telah berdampak serius terhadap ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, HPI mendorong pembukaan pelayaran secara terbatas dan kondisional, dengan mempertimbangkan cuaca aktual dan hasil pengamatan lapangan.
BACA JUGA :
– Alo Oba Bantah Klaim Mediasi Tanah, Sebut Informasi Karlos Tidak Benar
– Penutupan Wisata TNK Tuai Kritik DPRD Manggarai Barat
– Bandara Komodo Siapkan Alat Pemindai Suhu Cegah Super Flu dan Virus Nipah
– Razia Lalu Lintas Berujung Penangkapan Terduga Pencuri HP di Labuan Bajo
– Realisasi Pajak Hotel dan Restoran Manggarai Barat Capai Rp 127,5 Miliar
“Dalam situasi seperti ini, maka wilayah yang selama ini aman adalah Loh Buaya di Pulau Rinca. Karena, sesuai dengan pengamatan, pengalaman kami juga itu aman,” jelas Aloysius.
Ia juga mengusulkan agar operasional difokuskan pada rute dan destinasi tertentu yang relatif aman.
“Dengan mempertimbangkan karakteristik perairan dan pola perjalanan wisata yang telah berjalan selama ini,” ujar Aloysius.
Menurutnya, destinasi dengan kondisi perairan terbuka dan berisiko tinggi tetap harus dibatasi.
“Pembatasan tetap perlu diberlakukan secara lebih ketat sesuai dengan pertimbangan keselamatan,” katanya.
Sebagai alternatif, Aloysius menyebut dua jenis wisata yang dinilai layak dibuka. Pertama, wisata reguler seperti trekking, snorkeling, dan island camping di sejumlah lokasi yang relatif aman. Kedua, wisata selam di beberapa titik yang berada di kawasan perairan tengah.
“Ini adalah dive spot, yang dikategori safe spot dengan berada pada central area. Mereka berada di tempat di tengah dan mereka safe,” terang Aloysius.
Aspirasi serupa juga disampaikan asosiasi wisata lainnya. Menindaklanjuti hal tersebut, DPRD Manggarai Barat berencana menggelar RDP lanjutan dengan melibatkan KSOP, BMKG, dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

Diketahui, KSOP Labuan Bajo kembali memperpanjang penutupan total pelayaran kapal wisata hingga 1 Februari 2026.
Penutupan ini telah berlangsung sejak 26 Desember 2025, pascakecelakaan kapal wisata di Selat Pulau Padar yang menewaskan seorang pelatih sepak bola asal Spanyol dan tiga anaknya.
Setelah sempat dibuka selama tiga hari pada awal Januari, pelayaran kembali ditutup dan diperpanjang beberapa kali hingga saat ini.
Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.
Mari bergabung di Group WA berita LABUAN BAJO TODAY setiap hari.
Nikmati berita terkini tentang Wisata dan Investasi di Labuan Bajo.
















