BBKSDA Rekomendasikan Golo Mori sebagai Alternatif Lihat Komodo

Pariwisata137 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusulkan kawasan ITDC di Golo Mori, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, sebagai opsi destinasi alternatif untuk melihat komodo apabila kawasan Taman Nasional Komodo ditutup.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah labaho1.jpeg

Usulan tersebut muncul karena komodo yang berada di Cagar Alam (CA) Wae Wuul tidak diperuntukkan bagi aktivitas wisata.

Kepala Bidang Teknis KSDA BBKSDA NTT Dadang Suryana, menjelaskan bahwa sejumlah wisatawan sempat menanyakan kemungkinan melihat komodo di CA Wae Wuul ketika TN Komodo tidak menerima kunjungan akibat cuaca buruk. Namun, ia menegaskan bahwa status cagar alam tidak memungkinkan adanya kegiatan wisata.

“Ketika ditanya dapatkah wisatawan melihat komodo di Cagar Alam Wae Wuul? Jawabnya cagar alam tidak untuk wisata. Jadi, Cagar Lama Wae Wuul tidak bisa untuk wisata,” tegas Dadang, dilansir Detikbali, Rabu (18/2/2026).

CA Wae Wuul yang berada di Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, merupakan salah satu habitat komodo di luar kawasan TN Komodo. Ketentuan serupa juga berlaku bagi cagar alam lain di Flores yang menjadi habitat satwa tersebut, yakni CA Riung dan CA Wolotodha di Kabupaten Ngada.

Penegasan itu disampaikan Dadang dalam Rapat Koordinasi Multistakeholder Keselamatan Pariwisata di Labuan Bajo yang digelar oleh Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitar Manggarai Barat.

Ia juga mengakui adanya pengunjung yang nekat memasuki kawasan CA Wae Wuul saat TN Komodo ditutup. Beberapa di antaranya bahkan membagikan dokumentasi kunjungan tersebut ke media sosial tanpa sepengetahuan petugas.


BACA JUGA :
– Minibus Telaga Rindu Terjun di Roe Manggarai Barat, 3 Luka Ringan
– Laundry 3 Jam Selesai? Excellent Laundry Membuktikannya!
– Turis Asal Kanada Ditemukan Meninggal di Hotel Labuan Bajo, Ini Kronologinya
– April 2026, Kunjungan ke TN Komodo Dibatasi 1.000 Orang per Hari
– Pelni Labuan Bajo Beri Diskon 30 Persen Tiket Mudik Lebaran 2026


“Kami sudah mengidentifikasi ketika TNK ditutup ada sebagian masyarakat yang berkunjung ke Cagar Alam Wae Wuul, ke Lemu, ke beberapa lokasi juga. Ada yang naikin di media sosial, kami persuasif untuk minta di-takedown, diberitahu baik-baik,” ujar Dadang.

Sebagai solusi, Dadang menyebut kawasan ITDC di Golo Mori yang lokasinya tidak jauh dari CA Wae Wuul dapat dimanfaatkan sebagai alternatif. Di area tersebut, komodo diketahui kerap muncul sehingga berpotensi menjadi daya tarik tersendiri.

“Opsinya kalau misalnya Taman Nasional Komodo ditutup, kita bisa memanfaatkan keberadaan komodo di luar Cagar Alam tadi, di areal konservasi. Contoh di Golo Mori, di ITDC, itu merupakan bagian yang kami usulkan sebagai area konservasi, di sana ada komodo,” kata Dadang.

Ia menambahkan, keberadaan komodo di kawasan ITDC saat ini juga menyimpan potensi risiko bagi pengunjung karena belum ada langkah mitigasi yang terstruktur. Oleh sebab itu, diperlukan pelatihan bagi petugas setempat agar potensi konflik bisa diantisipasi.

“Kita melakukan upaya mitigasi, melakukan pelatihan kepada petugas di ITDC. Tentu ini akan menjadi, mengubah potensi konflik menjadi wisata. Komodo yang tadinya kemungkinan di ITDC itu menggigit pengunjung, menjadi daya tarik yang nanti akan mendatangkan pengunjung ke ITDC,” imbuh dia.

Selain kawasan ITDC, Dadang turut mengusulkan Pulau Longos di Kecamatan Boleng, Manggarai Barat, sebagai alternatif lokasi wisata komodo. Pulau tersebut dapat ditempuh sekitar dua jam perjalanan menggunakan kapal pinisi dari Labuan Bajo.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah labaho1.jpeg

“Masyarakat selama ini sudah cukup baik sekali melindungi komodo di situ dan ini sangat mungkin untuk dilakukan aktivitas wisata alam. Datang ke Pulau Longos mengunjungi budaya masyarakat kemudian melihat komodonya,” jelas Dadang.

Saat ini, BBKSDA NTT tengah mendorong proses penetapan kawasan tersebut sebagai area konservasi agar dapat dikelola secara resmi untuk kunjungan wisata berbasis alam.

“Kami saat ini sedang mendorong bagaimana penetapan area konservasi segera itu dilakukan, kemudian kita akan melakukan bagaimana kelembagaan pengelolanya, rencana aksi seperti apa,” jelas dia.

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Mari bergabung di Group WA berita LABUAN BAJO TODAY setiap hari.
Nikmati berita terkini tentang Wisata dan Investasi di Labuan Bajo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *