LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menyoroti kecenderungan wisatawan yang kini lebih memilih kunjungan singkat atau one day tour saat berlibur ke Labuan Bajo.

Pola ini dinilai berdampak pada minimnya perputaran ekonomi di sektor darat, karena aktivitas wisata lebih banyak terpusat di kawasan laut.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyebut perubahan pola kunjungan ini tidak lepas dari semakin mudahnya akses transportasi, termasuk keberadaan kapal cepat yang memudahkan mobilitas wisatawan dalam waktu singkat.
“Sekarang banyak wisatawan melakukan one day tour. Tiba hari ini, besok pagi langsung ke Pulau Padar, melihat Komodo, ke Pink Beach, sorenya kembali, dan keesokan harinya sudah terbang lagi. Ini fenomena yang terjadi saat ini,” ujar Andhy, dilansir RRI Labuan Bajo, Rabu 1 April 2026.
Ia menilai tren tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pariwisata di Labuan Bajo. Kunjungan yang terlalu singkat berisiko membuat wisatawan merasa cukup datang sekali tanpa keinginan untuk kembali.
BACA JUGA :
- Bupati Dorong ASN Mabar Terapkan Kerja Berbasis Data
- Laundry 3 Jam Selesai? Excellent Laundry Membuktikannya!
- Dari Bali hingga Labuan Bajo, Investor Memilih INBISNIS Property
- Lanal Labuan Bajo Gelar Kenaikan Pangkat untuk Enam Prajurit
- Apel Semana Santa, Polres Mabar Siap Amankan Pekan Suci
“Jangan sampai wisatawan merasa cukup sekali datang karena hanya melihat Komodo. Kita harus mengantisipasi agar Labuan Bajo tidak mengalami penurunan seperti daerah lain yang kehilangan daya tarik atau mengalami kerusakan lingkungan,” ucapnya.
Sebagai respons, BPOLBF mendorong pengembangan produk wisata yang lebih beragam agar pengalaman wisatawan tidak hanya terfokus pada destinasi bahari. Pendekatan ini diharapkan mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus memperkuat daya tarik kawasan.
“Pembeda kita dengan daerah lain adalah budaya dan kearifan lokal Manggarai Barat. Kami mendorong desa wisata berkembang dengan local champion, seperti sanggar seni. Minimal, ada atraksi yang bisa dinikmati wisatawan, baik tarian maupun kuliner lokal,” ujarnya.
Penguatan sektor budaya tersebut juga dilakukan melalui berbagai program aktivasi, salah satunya kegiatan rutin “Weekend at Parapuar” yang digelar di kawasan Parapuar.

Program ini membuka ruang bagi pelaku seni dari desa wisata untuk tampil sekaligus memperluas jejaring dengan pelaku industri pariwisata.
“Kami ingin sanggar seni bisa mandiri secara bisnis. Sejak tampil di Parapuar, beberapa sudah mulai dikenal dan mendapat undangan tampil dari hotel maupun instansi. Dengan begitu, manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan di laut, tetapi juga oleh masyarakat di darat,” ujarnya.
Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.
Mari bergabung di Group WA berita LABUAN BAJO TODAY setiap hari.
Nikmati berita terkini tentang Wisata dan Investasi di Labuan Bajo.









