Ramai Dugaan Open BO di Wae Sambi, Pemilik Penginapan Beri Klarifikasi

Ragam, Uncategorized63 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Kabar mengenai dugaan praktik prostitusi berbasis aplikasi kembali menyeruak di Labuan Bajo, wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah labaho1.jpeg

Isu ini menyeret nama sebuah penginapan, New Chez Felix, yang berlokasi di belakang Pasar Wae Sambi, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo. Tempat tersebut disebut menjadi titik pertemuan yang diatur melalui aplikasi pesan MiChat dengan sistem Open Booking Out (Open BO).

Secara geografis, bangunan dua lantai itu berada tak jauh dari Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Kesambi, hanya sekitar 200 meter. Karena letaknya di kawasan yang ramai aktivitas jual beli dan pemukiman warga, kabar ini cepat beredar luas dan menimbulkan kegelisahan di lingkungan sekitar.

Dari informasi yang beredar di masyarakat, beberapa akun perempuan pada aplikasi MiChat secara terang mencantumkan penginapan tersebut sebagai lokasi operasional. 

Tarif yang dipatok berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk sekali pertemuan. Saat dilakukan penelusuran, seorang perempuan berinisial A mengaku sudah cukup lama menetap di sana sembari menawarkan layanan kepada tamu. Ia menyebut dalam satu hari dapat menerima hingga delapan orang.

Pihak pengelola penginapan sendiri membantah mengetahui adanya aktivitas tersebut. Istri pemilik menyampaikan bahwa praktik serupa bisa saja terjadi di berbagai tempat, namun ia tidak memberikan keterangan lebih detail.


BACA JUGA :
– Puncak GBT Merah Menawan 19.33 WITA di Labuan Bajo 
– Laundry 3 Jam Selesai? Excellent Laundry Membuktikannya!
– SPBU Labuan Bajo Batasi BBM Subsidi untuk Pelat Luar NTT
– Peningkatan Keselamatan Laut Komodo, Radar dan Pemantauan Real-Time Jadi Utama
– Lewat Goes to School, P3Kom Edukasi Siswa Jaga Kebersihan Pantai


“Begini, saya mau jelaskan, di mana pun penginapan, kalau ada yang begitu itu urusannya tamu. Saya bukan punya urusan, entah mereka prostitusi,” katanya, dilansir Info Labuan Bajo, Selasa 3 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa tanggung jawabnya hanya sebatas transaksi penyewaan kamar.

“Saya punya urusan setiap hari mereka bayar kamar, itu saja. Saya tidak tahu apa profesinya. Siapa saja yang datang sebagai tamu, dia bayar, saya terima. Tidak ada urusan dia punya profesi, entah pencuri saya tidak ada urusan,” ujarnya.

Iron, pemilik penginapan tersebut, juga menyatakan bahwa pemberitaan yang beredar menurutnya tidak sepenuhnya tepat dan ia merasa tidak memiliki kepentingan apa pun dalam isu itu.

“Saya menganggap berita yang beredar itu tidak benar. Saya tidak ada kepentingan dengan berita itu. Saya bukan pejabat, silakan mau tulis itu, saya tidak goyang. Saya tidak ada urusan,” katanya.

Ia kembali menegaskan batas tanggung jawabnya hanya pada pengelolaan fasilitas penginapan.

“Urusan saya, saya bersihkan kamar, fasilitasnya sesuai kebutuhan kamar. Hal-hal mereka profesi apa, saya tidak tahu.”

Di sisi lain, data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat mencatat 26 kasus sifilis sepanjang 2024–2025 dan 174 kasus HIV/AIDS hingga Juli 2025, dengan 13 kematian dilaporkan. 

Angka tersebut kembali menjadi sorotan publik di tengah posisi Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas nasional. Dugaan praktik prostitusi daring dinilai berpotensi memengaruhi aspek kesehatan masyarakat serta reputasi daerah.

Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari aparat penegak hukum terkait dugaan aktivitas tersebut maupun langkah penanganan yang akan ditempuh.

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Mari bergabung di Group WA berita LABUAN BAJO TODAY setiap hari.
Nikmati berita terkini tentang Wisata dan Investasi di Labuan Bajo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *