Sampah Menumpuk di Pelabuhan Waterfront, KSOP Minta Pengangkutan Ditingkatkan

Pariwisata, Ragam45 Dilihat

LABUANBAJOTODAY.COM, MABAR – Tumpukan sampah memenuhi area Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Pelabuhan Waterfront Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (4/7/2026). Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena terjadi di salah satu kawasan yang menjadi pintu masuk utama wisatawan menuju Taman Nasional Komodo.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah labaho1.jpeg

Pantauan di lokasi menunjukkan sampah meluber hingga keluar dari kontainer milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Manggarai Barat. Berbagai jenis limbah, mulai dari kantong plastik, kardus bekas, botol minuman, hingga sampah pasar, terlihat menumpuk di sekitar TPS.

Volume sampah yang terus bertambah membuat sebagian badan jalan di sekitar lokasi ikut tertutup. Kondisi itu tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga menimbulkan kesan kumuh di kawasan pelabuhan yang setiap hari ramai dikunjungi wisatawan.

Di tengah tumpukan sampah tersebut, petugas kebersihan tetap berupaya mengangkut limbah menggunakan gerobak dorong dari area dermaga menuju TPS. Namun, banyaknya sampah yang harus ditangani membuat proses pengangkutan belum mampu mengimbangi volume sampah yang terus masuk.

Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo, Stefanus Risdiyanto, mengatakan pihaknya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan melalui surat resmi.

“Dengan semakin banyaknya kapal yang beroperasi, frekuensi pengangkutan sampah seharusnya ditingkatkan. Selain itu, seluruh retribusi pengelolaan sampah dikelola oleh Pemerintah Daerah,” kata Stefanus, dilansir Labuanbajoterkini.id, Minggu 5 Juli 2026.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, tumpukan sampah berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, mengganggu kenyamanan wisatawan, hingga mencemari kawasan pesisir yang menjadi wajah pariwisata Labuan Bajo.

Ia juga menyebut penumpukan sampah telah terlihat selama beberapa hari terakhir. Situasi itu dinilai menciptakan pemandangan yang kurang baik bagi wisatawan yang datang maupun masyarakat yang beraktivitas di kawasan pelabuhan.


BACA JUGA :


Pelabuhan Waterfront sendiri merupakan salah satu simpul penting aktivitas wisata di Labuan Bajo. Selain melayani kapal wisata, kawasan tersebut menjadi titik keberangkatan wisatawan menuju Taman Nasional Komodo dan destinasi lainnya di perairan Manggarai Barat.

Sementara itu, Kepala DLHK Manggarai Barat, Vinsensius Gande, mengakui proses pengangkutan sampah sempat mengalami kendala akibat salah satu armada pengangkut tidak dapat beroperasi.

“Pengangkutan akan dilakukan malam ini hingga tuntas. Kendala sementara disebabkan salah satu unit mobil pengangkut sedang diperbaiki,” jelas Vinsensius.

Di sisi lain, warga setempat, Arif Rahman (43), menilai penumpukan sampah juga dipengaruhi oleh kurangnya kedisiplinan sebagian pengguna jasa pelabuhan dalam membuang limbah pada tempat yang telah disediakan.

Menurut Arif, kontainer sampah sebenarnya sudah tersedia di kawasan pelabuhan. Namun, masih ada kapal wisata maupun kapal operasional yang membiarkan sampah menumpuk di atas kapal atau membuangnya secara sembarangan di area dermaga.

“Ini sangat disayangkan. Pemandangan buruk ini tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga berisiko mencemari lingkungan dan merusak reputasi Labuan Bajo,” ujar Arif.

Ia berharap pemerintah daerah memperketat pengawasan sekaligus memastikan seluruh pihak mematuhi aturan pengelolaan sampah. Dengan pengangkutan yang lebih rutin dan disiplin dari pengguna pelabuhan, kawasan Waterfront diharapkan tetap bersih, nyaman, dan mampu menjaga citra Labuan Bajo sebagai destinasi wisata unggulan.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Amankan Posisi Portofolio Anda di Pasar Premium Indonesia Rasakan kejelasan dan kenyamanan berinvestasi melalui ekosistem yang matang. Hubungi kantor INBISNIS Group di Bali dan Labuan Bajo untuk menjadwalkan sesi konsultasi strategis dan analisis portofolio eksklusif bersama tim pakar multidisiplin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *